Minggu, 16 September 2012

Mengenal Kota Rantauprapat

Bukitbarisan di sebelah Barat kota Rantauprapat
Cerita dimulai dari Balaiho Selamat Datang kota Rantauprapat di Janji. Ketika berada tepat di Baliho Selamat Datang ini akan terlihat kalau kota Rantauprapat berada tepat di Kaki Bukit Barisan. Beberapa meter menuruni Jalan Sudirman akan terlihat Gedung Olahraga disebelah kiri. Beberapa meter beikutnya melewati jalan Sudirman akan terlihat Simpang Jalan HM Said (Jalan Lingkar Rantauprapat). Tetapi lebih umum dikenal sebagai Jalan Baru di kalangan warga Rantauprapat. Beberapa meter berikutnya adalah Markas Kalacakti sebelah kanan. Setelah melewati markas tersebut merupakan suatu lingkungan yang lebih umum dikenal dengan Gang Sado. Dinamakan Gang Sado karena dahulu di gang tersebut banyak sado nongkrong menunggu sewanya.

Meneruskan Jalan Sudirman akan terlihat stasiun Kereta Api disebelah kiri. Stasiun ini merupakan ikon pertama kota ini karena sudah ada sejak era penjajahan, yang merupakan stasiun terakhir dari Medan. Kereta Api di kota ini merupakan transportasi utama Medan-Rantauprapat dan sebaliknya. Jadwal rutinnya tiga kali sehari semalam ke Medan, yaitu pagi, sore dan malam. Selain untuk mengangkut penumpang dan pengiriman barang rel Kereta Api juga dimanfaatkan untuk mengankut CPO dalam tanki.

Pada waktu tiba Kereta Api dari ketiga jadwal tersebut akan terlihat Beca Bermotor (Betor) dan Bus antri untuk mendapatkan sewa. Betornya agak besar dan pada umumnya bermesin Honda Win. Busnya ke berbagai jurusan misalnya Negeri Lama, Kampung Pajak dan daerah lainnya. Disekitar stasiun juga banyak jasa angkutan taxi liar. Biasanya kalau tidak mendapat tiket kereta Api akan banyak taxi ke Medan menawarkan jasanya.Setelah melewati stasiun akan mendapatkan kediaman Bupati dan Ketua DPRD yang juga dikenal lingkungan Padang Matinggi. Kemudian sampai pada pangkal Jembatan Sungai Bilah yang merupakan ikon kedua kota Rantauprapat. Dari Medan menuju kota Rantauprapat kita harus melewati jembatan sungai Bilah. Konon ceritanya sungai ini mempunyai peranan penting untuk perkembangan kota Rantauprapat era penjajahan dan revolusi. Sungai ini juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi pada masa itu. Sampai pangkal Jembatan dinamakan Jalan Jenderal Sudirman dan setelah ujung jembatan dinamakan Jalan Jenderal Ahmad Yani.

Gambaran Simpang Enam dari Jl A Yani
Dari ujung jembatan jalan mulai menanjak ringan, kira-kira 50 meter akan tampak Lapangan Ika Bina di sebelah kiri dan Kantor Polisi di sebelah kanan. Sehabis tanjakan jalan mendatar ke Simpang Enam. Dinamakan simpang enam karena simpangnya bercabang enam. Keenam simpang itu adalah Jalan Ahmad Yani, Agus Salim, Ahmad Yani, Imam Bonjol, Gatot Subroto dan Jalan Cut Nyak Dien. Jalan Gatot Subroto lebih umum dikenal Gatsu. Jalan Imam Bonjol sudah dipadati Rumah Toko (Ruko).


Bangunan Belanda di Jl A Yani menuju Simpang Empat
Disepanjang jalan Ahmad Yani masih terdapat tempat berjualan bangunan Belanda. Tetapi pada umumnya sudah dirombak menjadi bentuk Ruko. Antara jalan Ahmad Yani dan Agus Salim terdapat jalan Veteran yang menemuka kedua jalan itu. Panjang jalan ini kurang lebih seratus meter. Separuhnya akan berubah menjadi pusat jajanan makanan sepanjang malam hari. Berbagai jajanan disediakan disana. Disekitar ini juga terdapat Jalan Pattimura yang merupakan tempat nongkrong lelaki paruh baya dan orangtua dari berbagai latar belakang dipagi hari. Ada pensiunan, agen kenderaan, tukang beca, dan lain sebagainya. Berbagai informasi sekitar Rantauprapat bisa kita dapatkan disini.


Terus melalui jalan Ahmad Yani menuju simpang Empat. Seperti nama simpang sebelumnya simpang ini bercabang empat. Kekiri Jalan Martinus Lubis dan Kekanan Jalan Diponegoro. Kira-kira 50 meter jalan Diponegoro dari simpang adalah Pajak Baru. Sekarang Pajak ini sudah kosong karena Pemerintahan Tigor-Suhari memindahkannya ke Pajak Gelugur. Diujung jalan ini terdapat simpang tiga, arah ke kiri Jalan Sirandorung dan ke kanan Jalan Siringoringo. Nama jalan yang menurut saya Khas Rantauprapat, karena nama jalan itu lain dari nama jalan di Rantauprapat pada umumnya. Di ujung jalan Diponegoro juga terdapat panglong Bandar Losa. Konon ceritanya ini adalah panglong tertua di Rantauprapat. Kedua jalan ini menuju jalan baru. Didalam segitiga ketiga jalan ini terdapat Pajak Gelugur di Jalan Gelugur.

Sampai tahun 2005 pusat perbelanjaan yang paling besar di Rantauprapat adalah Sinar Mega. Tepatnya didepan Gedung Nasional beberapa meter meneruskan Jalan Ahmad Yani. Sekarang sudah tutup seiring dengan berdirinya Suzuya tahun 2005. Galon pertama di Rantauprapat tepat disamping Gedung Nasional yang sekarang sudah tutup dan belukar. Galon berikutnya didepan Hotel Rantauprapat dan di Jalan Baru. Tidak jauh dari Simpang Empat ada Kedai Akur. Umunya kedai ini tempat nongkrong para wartawam dipagi hari. Kita akan mendapatkan informasi perkembangan pemerintahan dan politik Labuhanbatu di kedai ini. Sajian makanan di kedai ini terbatas, hanya roti bakar selai dan telur rebus setengah matang. Sajian minumannya khas wartawan, kopi susu, kopi, teh manis dan softdrink lainnya. Roti bakarnya dilapisi selai markisa yang kental, apabila minumannya kopi susu akan terasa berat dileher.

Suzuya, Saat Ini Menjadi Pusat Perbelanjaan Terbesar di Rantauprapat
Terus melusuri Jalan Ahmad Yani akan melewati Hotel Indah dan hotel Garuda. Setelah itu kita akan medapati Makam Pahlawan disebelah kanan. Tidak berapa jauh dari Makan Pahlawan ada Suzuya disebelah kiri yang depannya terdapat gereja yang tertua di Rantauprapat yang dibangun ditahun 1936. Sekitar 100 meter kemudian terdapat Masjid Agung juga merupakan masjid tertua di Rantauprapat. Seterusnya hotel Rantauprapat dan supermarket Brastagi. Brastagi merupakan tempat belanja bahan-bahan dapur seperti halnya kita berada di Pajak Gelugur, mungkin dengan berbagai variasi yang diimpor dari luar negeri. Tempat belanja ini sulit dimengerti oleh masyarakat Rantauprapat. Selain Masjid dan Gereja di kota ini juga terdapat Klenteng Cina. Yang paling besar disekitar Jalan HM Said. Kelenteng ini baru dibangun. Selain itu terdapat juga Klenteng Cina di Jalan Gatsu, diantara Jalan Sirandorung dengan Jalan Siringo-ringo dekat Pajak Gelugur dan di disekitar Jalan Urip Sumadiharjo.


Tidak jauh dari Brastagi kita dapatkan simpang tiga ke Rumah Sakit Umum Labuhanbatu. Dan simpang ini merupakan akhir dari Jalan Ahmad Yani. Mulai dari pangkal simpang ini akan dinamakan Jalan SM Raja. Dijalan ini terdapat Hotel Nuansa Indah dan Hotel Putri Deli dan Simpang Mangga. Simpang ini bercabang tiga, dinamakan simpang mangga karena dulunya terdapat pohon mangga besar disimpang itu sebagai tempat berteduh. Tidak jauh dari simpang ini ada sebuah galon yang sudah tutup karena Meledak tahun 2011. Ledakan ini menewaskan salah seorang pegawainya dan melukai beberapa yang lainnya. Tidak jauh dari galon ini sebelum jembatan Aek Tapa sedang berlangsung pembangunan pasar swalayan Suzuya yang lebih besar nantinya. Dari jembatan ini jalan lurus menuju lingkungan perkantoran pemerintahan. Dinamai jembatan Aek Tapa karena sungai yang mengalir dibawahnya dinamakan Aek Tapa. Dinamakan Aek Tapa karena dulu banyak terdapat ikan Tapa. Sejenis ikan yang bisa tumbuh sangat besar. Mungkin diibartkan ikan yang ber-tapa.


Masjid Al Ikhlas di Lingkungan Asrama Haji Rantauprapat
Disekitar perkantoran ini terdapat berbagai kantor dinas urusan pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu. Mulai dari kantor DPRD, Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Asrama Haji, Kantor Departemen Agama dan lain sebagainya. Saat ini sedang pembangunan pemugaran Kantor Bupati Labuhanbatu. Pemberangkatan dan pemulangan haji setiap tahun merupakan jadwal rutin kegiatan pemerintahan mulai tahun 2004. Sekitar lima ratus meter dari perkantoran itu akan ditemui simpang pertemuan dengan jalan HM Said atau Jalan Baru. Simpang ini juga ujung dari Jl SM Raja. Tidak jauh dari simpang ini setelah melewati Jembatan Aek Riung terdapat pabrik getah yang lebih umum dikenal dengan Hok-Lie. Dari simpang ini sampai ke Baliho Selamat Jalan kota Rantauprapat sekitar satu kilo meter yang umum dikenal dengan lingkungan Sigambal. Jalan diantara ini sering macet, karena selain jalannya sempit selasar jalan juha agak tinggi jaraknya dengan lingkungan sekitar.



Rantauprapat Dimalam Hari


Suasana Jalan KH Ahmad Dahlan dimalam hari
Titik-titik yang ramai dimalam hari adalah Jalan Veteran, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Gatot Subroto. Di Jalan Veteran akan tersedia berbagai hidangan jajanan untuk keluarga seperti mie rebus, nasi goreng, dan lain sebagainya. Jalan Gatot Subroto (Gatsu) adalah tempat para remaja nongkrong mulai sore hingga malam hari. Berbagai jajanan khas remaja tersedia disini, misalnya burger, dan lain sebagainya. Para remaja juga akan banyak terlihat melewatkan sore dan malamnya di Puncak. Suatu tempat di sekitar pintu masuk Stadion Binaraga. Dinamakan puncak karena tempat ini merupakan tempat paling tinggi disekitar Rantauprapat. Sedangkan Jalan KH Ahmad Dahlan akan banyak menjual pakaian bekas dan baru. Jika kita hendak membeli pakaian atau sepatu baru dimalam hari tempatnya adalah disini.

Selain ketiga tempat diatas titik lainnya adalah lopa loma dipangkal jalan Gatsu dari Simpang Enam dan Mie Aceh di lingkungan perisai. Dinamakan perisai karena dulunya terdapat lapangan bola yang dinamai Perisai. Akan tetapi sekarang sudah menjadi perumahan dan namanya tetap perumahan Perisai Indah. Titik lainnya adalah jalan baru. Ini adalah keramaian yang bernada negatif. Ketika melewati wilayah ini akan terdengar suara musik house dengan dentuman kuat. Disekitar ini terdapat beberapa kafe liar. Salah satu yang paling dikenal adalah kafe Gundaling. Tempat ini akan banyak dikunjungi oleh para lelaki berbagai kalangan. Berbagai transaksi dunia malam terjadi disini.

Dimalam hari juga akan banyak ditemui beberapa warnet yang buka sampai larut malam. Warnet sangat menjamur dan tersebar disekitar jalan Gatsu, Urip Sumadiharjo dan Siringo-ringo. Akan banyak kita temui para remaja bermain game online.

Makanan
Makanan khas kota Rantauprapat adalah Ikan Baung Gulai Asam, Anyang Ayam, Ikan Mas Holat. Ikan Baung Gulai Asam adalah ikan yang di gulai dengan banyak asam tanpa santan. Anyang ayam adalah ayam yang dibakar setelah itu dicampur dengan santan dan Ikan Mas Holat adalah ikan mas yang bakar, setelah itu dimasukkan kedalam kuah yang dicampur dengan kikisan kayu Holat. Holat berarti kelat. Kayu ini banyak tumbuh di daerah Gunungtua. Menurut cerita rasa kayunya memang kelat. Salah satu rumah makan yang paling dikenal adalah Rumah Makan Afifah di Jalan SM Raja.

Seperti kota-kota lainnya, Rantauprapat juga banyak terdapat Rumah Makan cita rasa Padang. Tersebar diberbagai titik jalan di Rantauprapat. Selain cita rasa Padang, pada malam hari juga banyak yang menjual makanan cita rasa Jawa. Berbagai kaki lima dimalam hari akan berubah menjadi tempat menjual makanan cita rasa ini seperti kepiting saus tiram dan lain sebagainya. Selain cita rasa diatas dikota ini juga tersedia cita rasa Aceh seperti Mie Aceh. Titiknya juga tersebar disepanjang Jalan Sudirman-Ahmad Yani-SM Raja pada malam hari. Makan cita rasa modern juga tersedia, seperti CFC di Suzuya dan ayam goreng Top Cicken di Jalan Cut Nyak Dien. Dan belakangan sudah ada Pizza di Supermarket Brastagi. Toko roti yang paling umum dikenal sekarang adalah Toko Roti France di Jalan Ahmad Yani. Sebelum toko ini yang paling umum dikenal adalah Toko Roti Timur Bakri.

Tempat Rekreasi
Tempat rekreasi yang paling banyak dikunjungi adalah Aek Buru. Aek Buru merupakan tempat wisata alam. Jaraknya sekitar dua puluh kilometer Barat Laut Rantauprapat. Tempat wisatanya berupa air sungai mengalir yang dinaungi dengan pohon rindang, sangat sejuk. Saat hari libur akan banyak kita jumpai para remaja membawa makanan mentah untuk dibakar ditepi sungai ini. Disini kita akan merasa dekat dengan alam.

Setelah Aek Buru ada juga yang disebut dengan Terjun Baru. Ini tempat rekreasi berupa air terjun di Kaki Bukit Barisan. Jaraknya sekitar sepuluh kilometer Barat Daya Kota Rantauprapat. Ini juga merupakan tempat wisata alam berupa aliran sungai, tetapi dengan tebing yang lebih tinggi. Disana kita akan merasa dekat dengan bumi. Disekitar Terjun Baru juga terdapat tugu perjuangan Lobusona. Wilayah ini diabadikan dengan nama kelurahan. Konon ceritanya disekitar tugu tersebut merupakan pusat komando para pejuang masa revolusi untuk mempertahankan wilayah Labuhanbatu dari agresi Belanda. Setiap peringatan hari kemerdekaan Napak Tilas selalu melewati tugu ini.

Bahasa
Bahasa yang umumnya dipakai Rantauprapat adalah Bahasa Indonesia. Tetapi tidak jarang masyarakatnya menggunakan bahasa daerahnya (bahasa Panai, Mandailing, Angkola dan Batak). Bahasa Hokkian (Cina) juga tidak jarang kita dengar diberbagai toko di kota ini. Bahasa yang khas dan umum digunakan kedalam Bahasa Indoensia adalah bongak yang berarti omong kosong. Satuku berarti sendirian. Yang Heppot berarti yang sibuk. Boloi berarti perbaiki. Yang oto berarti yang yang bodoh. Ondak berarti mau, akan. Jang yang berarti Lah.

6 komentar:

  1. min, kenapa mesjid raya agung tidak dicantumkan, padahal memsjid itu memiliki sejarah akan berkembangnya Rantauprapat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya iya, tetapi ini hanya sebagai mengenal kondisi sekarang. Maksud saya belum dari aspek sejarahnya. Salam.

      Hapus
    2. min.. asli ranto ya?? dimananya?? boleh kita berteman??

      Hapus
  2. iman bonjol kok gak ada,,,,
    losmen gunung sari jga ada sejarahnya itu loh...

    BalasHapus
  3. Lobusona mana....kan ada tugu perjuanganya bahkan ketika pemberontakan PRRI..konon kbrnya..Kolonel Ahmad Yani dan Letkol Pranoto Reksosamudro prnh singgah di tugu tsb....

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto Saya
Rantauprapat, Sumatera Utara, Indonesia
Abdi Negara pecinta sejarah, kebudayaan dan sosial.